Makalah Konsep Ketuhanan, Manusia, dan Alam Dalam Islam


AGAMA

KONSEP KETUHANAN, MANUSIA, DAN ALAM

DALAM ISLAM



 













KELOMPOK 1

DISUSUN  OLEH :

Aniisa Fajri Azzahra             08061181924128
Cyntia Claudia Pratiwi          08061181924008
Khodijah                                08061181924006
Marcela Lintang Nurjannah  08061181924002
     Raden Ayu Aulya’ A.H.       08061181924004
Rahma                                   08061081924124
                                 

Dosen pembimbing : Fitri

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2020


DAFTAR ISI

               
    E. Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan.................................................... 13
    E. Dalil Pembuktian Adanya Tuhan.................................................................. 16
    E. Keimanan dan Ketaqwaan............................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan berkat, rahmat, serta karunia-Nya, sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan proses yang lancar. Mulai dari mengumpulkan materi, menyusun bagian-bagian makalah, sampailah pada akhirnya makalah ini terselesaikan.
Dalam makalah ini, materinya disusun sebaik mungkin dengan menyesuaikan materi pembelajaran yang diajarkan oleh dosen pembimbing. Bahasa yang digunakan dalam ini merupakan bahasa yang komunikatif, sehingga mudah dipahami oleh para pembaca yang membaca makalah ini.
Secara tidak langsung, para pembaca makalah ini dapat meningkatkan pemahamannya terhadap materi mengenai Sistem Saluran Pencrnaan. Selain itu, untuk menyesuaikan informasi dalam makalah ini dengan materi yang diberikan oleh guru pembimbing. Penulis berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan materi yang diberikan.
Akhirnya, pada kesempatan ini penulis meyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam upaya penyelesaian makalah ini dan kepada pembaca makalah atas kesediaan memberikan saran dan kritik dalam penyempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca yang membaca makalah ini.




                                                                                     Indralaya,  Februari 2020


                                                                                               Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Tuhan, manusia, dan alam merupakan pembahasan filsafat klasik yang tidak pernah ada habisnya. Tuhan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah, dan dipercaya oleh manusia sebagai yang maha kuasa, maha perkasa, dan sebagainya. Sedangkan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, secara kodrati dianugerahkan hak dasar yang disebut hak asasi tanpa perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Manusia juga memiliki suatu keluhuran dan martabat naluriah, motivasi, atau pendorong manusia dalam berbagai hal.
Secara pandangan islam, sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. manusia memiliki tugas tertentu dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini. Untuk menjalankan tugasnya, manusia dikaruniakan akal dan pikiran oleh Allah Swt. Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun manusia dalam menjalankan perannya. Dalam hidup di dunia, manusia diberi tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam dengan perangkat iman dan ilmu pengetahuan.
Dalam sejarah peradaban Yunani, pengkajian dan kontemplasi tentang eksistensi Tuhan menempati tempat yang khusus dalam bidang pemikiran filsafat.Seperti kajian filosofis tentang eksistensi Tuhan dapat dilihat bagaimana filosof Aristoteles menggunakan gerak-gerak benda di Alam dalam membuktikan adanya penggerak yang tak terlihat.Argumentasi filosofis tentang eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya ini kemudian secara berangsur masuk dan berpengaruh kedalam keimanan Islam.
Namun tradisi ini mewujudkan semangat baru dibawah pengaruh doktrin-doktrin suci agama Islam yang kemudian membidani lahirnya filosof Muslim seperti Al Farabi dan Ibnu Siena.
            Ketuhanan erat kaitannya dengan Tauhid, dimana dalam konsep ke-Islam-an Tauhid berarti satu atau mengesakan, yaitu mengesakan Tuhan dalam hal ini adalah Allah SWT.Allah SWT yang merupakan Dzat pemilik segala keagungan dan kesempurnaan, yang menciptakan segala makhluk yang ada dialam dunia ini.Maka sebagai seorang Muslim kita wajib mengkaji tentang konsep Ketuhanan dalam konsep Islamdan implementasi dari pada kajian tentang Ketuhanan tersebut.

B.       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari materi konsep ketuhanan, manusia, dan alam dalam islam sebagai berikut.
1.    Bagaimana konsep ketuhanan dan implikasinya dalam kehidupan sehari – hari ?
2.    Apa konsep manusia sebagai makhluk bertuhan ?
3.    Apa saja peran agama dalam membangun peradaban ?
4.    Bagaimana filsafat ketuhanan ?
5.    Bagimana sejarah pemikiran manusia tentang Tuhan ?
6.    Apa saja dalil tentan ketuhanan ?
7.    Bagimana keimanan dan ketaqwaan manusia dalam bertuhan ?

C.      Tujuan
Tujuan disusunnya makalah konsep ketuhanan, manusia, dan alam dalam islam ini ialah sebagai berikut.
1.    Untuk memahami konsep ketuhanan dan implikasinya dalam kehidupan sehari – hari.
2.    Untuk mengetahui konsep manusia sebagai makhluk bertuhan.
3.    Untuk megetahui peran agama dalam membangun peradaban.
4.    Untuk mengetahui filsafat yang ada dalam bertuhan.
5.    Untuk mengetahui sejarah pemikiran manusia tentang Tuhan.
6.    Untuk mengetahui dalil tentang ketuhanan.
7.    Untuk memahami keimanan dan ketaqwaan manusia dalam bertuhan.


D.      Manfaat
Adapun manfaat dari materi konsep ketuhanan, manusia, dan alam dalam islam sebagai berikut.
1.    Dapat memahami konsep ketuhanan dan implikasinya dalam kehidupan sehari – hari.
2.    Dapat memahami konsep manusia sebagai makhluk bertuhan dan diimplementasikan dalam keseharian.
3.    Dapat memahami peran agama dalam membangun peradaban.
4.    Dapat mengetahui filsafat yang ada dalam bertuhan.
5.    Dapat mengetahui sejarah pemikiran manusia tentang Tuhan.
6.    Dapat mengetahui dalil tentang ketuhanan.
7.    Dapat memahami keimanan dan ketaqwaan manusia dalam bertuhan.















BAB II
PEMBAHASAN
A.       Konsep Ketuhanan dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari – hari
 Konsep Ketuhanan dapat diartikan sebagai kecintaan, pemujaan atau sesuatu yang dianggap penting oleh manusia terhadap sesuatu hal (baik abstrak maupun konkret). Eksistensi atau keberadaan Allah disampaikan oleh Rasul melalui wahyu kepada manusia, tetapi yang diperoleh melalui proses pemikiran atau perenungan. Informasi melalui wahyu tentang keimanan kepada Allah dapat dibawa dalam kutipan di bawah ini: Surat Al-Anbiya’ 25
yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadaNya, bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
Sejak diutusnya Nabi Adam AS sampai Muhammad Saw Rasul terakhir. Ajaran Islam yang Allah Swt wahyukan kepada para utusanNya adalah Tauhidullah atau monotheisine murni. Sedangkan lafadz kalimat tauhid itu adalah laa ilaha illa Allah. Ada perbedaan ajaran tentang Tuhan yang ada asalnya dari agama wahyu. Hal semacam itu disebabkan manusia mengubah ajaran tersebut. Dan hal seperti itu termasuk kebohongan yang besar (dhulmun’adhim).[1]
Surat Al-Maidah : 72
Dan Al masih berkata; Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu, sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka Allah pasti mengharamkan baginya surga dan tempatnya adalah neraka”.
Surat Al-Baqarah : 163
“ Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan kecuali Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.
Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa Allah Swt adalah Tuhan yang mutlak keesaannya. Lafadz Allah swt adalah isim jamid, personal nama, atau isim a’dham yang tidak dapat diterjemahkan, digantikan atau disejajarkan dengan yang lain. Seseorang yang telah mengaku Islam dan telah mengikrarkan kalimat Syahadat Laa ilaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah) berat telah memiliki keyakinan yang benar, yaitu monoteisme murni/monoteisme mutlak. Sebagai konsekuensianya, ia harus menempatkan Allah Swt sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas kehidupan.[2]
Ada banyak implementasi iman kepada Allah yag bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti :
1.     Taqwa kepada Allah SWT.
a.    Mendirikan sholat.
b.    Menafkahkan sebagian rezeki
c.    Beriman kepada kitab Allah
d.   Menafkahkan sebagian hartanya baik disaat waktu lapang ataupun sempit.
e.    Selalu beruat kebajikan
f.     Mampu menahan amarah
g.    Mampu memaafkan kesalahan orang lain
2.    Berbuat baik kepada orang tua
a.    Berbakti kepada oang tua ketika masih hidup
b.    Berbakti kepada orang tua setelah meninggal
3.    Berbuat baik kepada sesam manusia
a.    Tolong menolong dalam hal baik dan taqwa, dan tidak tolong menolong dalam dosa dan permusuhan
b.    Mendamaikan mereka yang berselisih
c.    Tidak saling mengolok-olok atau menghina
B.       Konsep Manusia dalam BertuhanTop of Form
Manusia adalah makhluk ber-Tuhan, pola pemikiran ini bertolak dari pandangan manusia sebagai makhluk homo religious. Salah satu tokohnya adalah Mircea Eliade. Pandangan Eliade dapat dilihat pada tulisan Mangunhardjono dalam buku Manusia Multi Dimesional: Sebuahrenungan filsafat,(1982:38). Menurut Eliade, homo religious tipe manusia yang hidup dalam suatu alam yang sakral, penuh dengan nilai-nilai religius dan dapat menikmati sakralitas yangada dan tampak pada alam semesta, alam materi, alam tumbuh-tumbuhan,dan manusia. Sebagaimakhluk religius manusia sadar dan meyakini akan adanya kekuatan supranatural dalam dirinya.Sesuatu yang disebut supranatural itu dalam sejarah manusia disebut Tuhan.
Sebagai mahluk Tuhan, manusia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan yang diwujudkan dengan berbagai cara. 
2.      Menyadari bahwa dunia serta isinya adalah ciptaan Tuhan
3.      Manusia dianugerahi akal dan budi yang dapat dikembangkan secara maks. 
Manusia memiliki keterbatasan yang kadang sukar dijelaskan ciri-ciri tersebut dapat kita amati dalam berbagai perilaku manusia dalam kesehariannya. Keyakinan akan adanya Tuhan membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepadaTuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu:
1.      Menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan
2.      Menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan.[3]

C.      Peran Agama Dalam Membangun Peradaban
Menurut Qadir (1991) Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah :
1.      Karena agama merupakan sumber moral
2.      Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
3.      Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
4.      Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.
Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78.
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya.
Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Disinilah letak fungsi agama dalam kehidupan manusia, yaitu membimbing manusia kejalan yang baik dan menghindarkan manusia dari kejahatan atau kemungkaran.[4]
Menurut Shihab (1999) Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti:
1.      Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia
Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia (sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWT dan setiap manusia harus menaati Allah SWT.
2.      Menjawab berbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia
Sestengah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat  menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan ini.
3.      Memberi rasa kebesamaan kepada sesuatu kelompok manusia
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.
4.      Memainkan fungsi kawanan sosial
Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawanan social.
5.      Fungsi Sosial Agama
Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifat negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah-belah (desintegrative factor).[5]

D.      Filsafat Ketuhanan Islam
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian filsafat dari segi kebahasan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Keimanan dalam Islam merupakan aspek ajaran yang fundamental, kajian ini harus dilaksanakan secara intensif. Keimanan kepada Allah SWT, kecintaan, pengharapan, ikhlas, kekhawatiran, tidak dalam ridho-Nya, tawakkal nilai yang harus ditumbuhkan secara subur dalam pribadi muslim yang tidak terpisah dengan aspek pokok ajaran yang lain dalam Islam. Muslim yang baik memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan spiritual (QS. Ali Imran: 190-191) sehingga sikap keberagamaannya tidak hanya pada ranah emosi tetapi didukung kecerdasan pikir atau ulul albab. Terpadunya dua hal tersebut insya Allah menuju dan berada pada agama yang fitrah. (QS.Ar-Rum: 30). [6]
Jadi, filsafat Ketuhanan dalam Islam bisa diartikan juga yaitu kebijaksanaan Islam untuk menentukan Tuhan, dimana Ia sebagai dasar kepercayaan umat Muslim. Siapakah Tuhan itu? Perkataan ilah, yang diterjemahkan “Tuhan”, dalam Al-Quran dipakai untuk menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam QS : 45 (Al-Jatsiiyah) : 23, yaitu:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati  pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
Dalam QS : 28 (Al-Qashash) : 38, perkataan ilah dipakai oleh Fir‘aun untuk dirinya sendiri:
dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan  yang Tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar  yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta".
Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) maupun benda nyata (Fir‘aun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah dalam Al-Quran juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna: ilaahaini), dan banyak (jama‘: aalihatun). Derifasi makna dari kata ilah tersebut mengandung makna bahwa “bertuhan nol” atau atheisme adalah tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan definisi Tuhan atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika Al-Quran sebagai berikut, Tuhan (Ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya. Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian.
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-Ilah sebagai berikut, Al-Ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya.[7]
Atas dasar definisi ini, tuhan bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan manusia. Yang pasti, manusia tidak mungkin atheis, tidak mungkin tidak ber-tuhan. Berdasarkan logika Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan begitu, orang-orang komunis pada hakikatnya ber-tuhan juga. Adapun tuhan mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka. Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “laa ilaaha illa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan penegasan melainkan Allah. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah SWT. Agar lebih jelas memahami tentang siapakah Allah, DR. M. Yusuf Musa menjelaskan dalam makalahnya yang berjudul “Al Ilahiyyat Baina Ibnu Sina wa Ibnu Rusyd” yang telah di edit oleh DR. Ahmad Daudy, MA dalam buku Segi-segi Pemikiran Falsafi dalam  Islam. Beliau mengatakan : Dalam ajaran Islam, Allah SWT adalah pencipta segala sesuatu ; tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya, serta tidak ada sesuatu yang kekal tanpa pemeliharaan-Nya. Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang paling kecil dan paling halus sekali pun. Ia yang menciptakan alam ini, dari tidak ada kepada ada, tanpa perantara dari siapa pun. Ia memiliki berbagai sifat yang maha indah dan agung.

E.       Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan
1.      Pemikiran Barat
Konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah konsep yang didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun batiniah, baik yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin. Dalam literatur sejarah agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat menjadi sempurna. Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh Max Muller, kemudian dikemukakan oleh EB Taylor, Robertson Smith, Lubbock dan Javens. Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme adalah sebagai berikut:
a.       Dinamisme
Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif. Kekuatan yang ada pada benda disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti mana (Melanesia), tuah (Melayu), dan syakti (India).
b.      Animisme
Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai sesuatu yang aktif sekalipun bendanya telah mati. Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu yang selalu hidup, mempunyai rasa senang apabila kebutuhannya dipenuhi. Menurut kepercayaan ini, agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus menyediakan kebutuhan roh. Saji-sajian yang sesuai dengan saran dukun adalah salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan roh.
c.       Politeisme
Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan kepuasan, karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya. Ada dewa yang bertanggung jawab terhadap cahaya, ada yang membidangi masalah air, ada yang membidangi angin dan lain sebagainya.
d.      Henoteisme
Politeisme tidak memberikan kepuasan, terutama terhadap kaum cendekiawan. Oleh karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi, karena tidak mungkin mempunyai kekuatan yang sama. Lama-kelamaan kepercayaan manusia meningkat menjadi lebih definitif (tertentu). Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui tuhan (ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu tuhan untuk satu bangsa disebut dengan Henoteisme (Tuhan Tingkat Nasional).
e.       Monoteisme
Kepercayaan dalam bentuk Henoteisme melangkah menjadi Monoteisme. Dalam Monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional. Bentuk Monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam tiga paham, yaitu: deisme, panteisme, dan teisme.
Evolusionisme dalam kepercayaan terhadap Tuhan sebagaimana dinyatakan oleh Max Muller dan EB. Taylor (1877), ditentang oleh Andrew Lang (1898) yang menekankan adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dia mengemukakan bahwa orang-orang yang berbudaya rendah juga sama monoteismenya dengan orang-orang Kristen. Mereka mempunyai kepercayaan pada wujud yang agung dan sifat-sifat yang khas terhadap tuhan mereka, yang tidak mereka berikan kepada wujud yang lain. 
Dengan lahirnya pendapat Andrew Lang, maka berangsur-angsur golongan evolusionisme menjadi reda dan sebaliknya sarjana-sarjana agama terutama di Eropa Barat mulai menantang evolusionisme dan memperkenalkan teori baru untuk memahami sejarah agama. Mereka menyatakan bahwa ide tentang Tuhan tidak datang secara evolusi, tetapi dengan relevansi atau wahyu. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan pada penyelidikan bermacam-macam kepercayaan yang dimiliki oleh kebanyakan masyarakat primitif. Dalam penyelidikan didapatkan bukti-bukti bahwa asal-usul kepercayaan masyarakat primitif adalah monoteisme dan monoteisme adalah berasal dari ajaran wahyu Tuhan (Zaglul Yusuf, 1993 : 26-27). [8]
2.      Pemikiran Umat Islam
Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, atau Ilmu Ushuluddin di kalangan umat Islam, timbul beberapa periode setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Yakni pada saat terjadinya peristiwa tahkim antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Mu‘awiyyah. Secara garis besar, ada aliran yang bersifat liberal, tradisional, dan ada pula yang bersifat di antara keduanya. Sebab timbulnya aliran tersebut adalah karena adanya perbedaan metodologi dalam memahami Al-Quran dan Hadis dengan pendekatan kontekstual sehingga lahir aliran yang bersifat tradisional. Sedang sebagian umat Islam yang lain memahami dengan pendekatan antara kontektual dengan tektual sehingga lahir aliran yang bersifat antara liberal dengan tradisional. Aliran-aliran tersebut yaitu :
a.       Mu‘tazilah
Merupakan kaum rasionalis di kalangan muslim, serta menekankan pemakaian akal pikiran dalam memahami semua ajaran dan keimanan dalam Islam. Dalam menganalisis ketuhanan, mereka memakai bantuan ilmu logika Yunani, satu sistem teologi untuk mempertahankan kedudukan keimanan. Mu‘tazilah lahir sebagai pecahan dari kelompok Qadariah, sedang Qadariah adalah pecahan dari Khawarij.
b.      Qodariah
Berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang menghendaki apakah ia akan kafir atau mukmin dan hal itu yang menyebabkan manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
c.       Jabariah
Berteori bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku manusia ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan. Aliran ini merupakan pecahan dari Murji‘ah.
d.      Asy‘ariyah dan Maturidiyah
Hampir semua pendapat dari kedua aliran ini berada di antara aliran Qadariah dan Jabariah. Semua aliran itu mewarnai kehidupan pemikiran ketuhanan dalam kalangan umat Islam periode masa lalu. Pada prinsipnya aliran-aliran tersebut di atas tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Oleh karena itu umat Islam yang memilih aliran mana saja diantara aliran-aliran tersebut sebagai teologi mana yang dianutnya, tidak menyebabkan ia keluar dari Islam. Menghadapi situasi dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, umat Islam perlu mengadakan koreksi ilmu berlandaskan al-Quran dan Sunnah Rasul, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu.[9]

F.       Dalil Pembuktian Adanya Tuhan
1.    Surah Al-Ikhlas
Artinya : 1)Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2)Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4) Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” Surat ini terdiri atas 4 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah sesudah surat An Naas. Dinamakan Al Ikhlas karena surat ini sepenuhnya menegaskan kemurnian keesaan Allah S.W.T. Pokok-pokok isinya merupakan penegasan tentang kemurnian keesaan Allah s.w.t. dan menolak segala macam kemusyrikan dan menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya.Surat Al Ikhlash ini menegaskan kemurnian keesaan Allah S.W.T.
2.    Surat  Al Hasyr : 22
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
Artinya: Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (QS. Al Hasyr : 22). Tafsir dari ayat diatas adalah sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah. Segala sesuatu yang disembah selain Dia, baik itu pohon, batu,berhala maupun malaikat adalah batil. Dia mengatahui segala makhlukyang nyata bagi kita dan yang ghoib. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, baik dilangit maupun dibumi. Dia mempunyai rahmat yang luas dan meliputi segala makhluk. Dia lah yang Maha Rahman di bumi dan Maha Rahim diakhirat.
Al-Biqa’i berkomentar tentang kata (هُو) bahwa Dia yang wujud-Nya dari Dzat-Nya sendiri sehingga Dia sama sekali tidak disentuh oleh Adam dalam bentuk apapun,karena Dialah yang hadir pada setiap benak, dan yang ghaib (tidak terjangkau) keagungan-Nya oleh semua indra, dan kerena itu pula gunung retak karena takut kepada-Nya.
Kata (اللَّهُ) Allah sepintas tidak diperlukan lagi karena kata huwa telah menuk kepada-Nya. Tetapi untuk menggambarkan semua sifat – sifat-Nya,sebelum menyebut sifat tertentu. Sehingga apabila kita mengucapkan kata Allah itu sudah mencakup sifat-sifat Allah SWT,tepai ketika kita mengucapkan nama-Nya yang lain, misalnya Ar-Rahman atau Ar-Rahim maka hanya menggambarkan sifat Rahman.
3.    Surat Al-araf  : 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ  شَهِدْنَا  أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (Al-araf 172) Tafsir mufradat dalam ayat ini Allah menerangkan tentang janji yang dibuat pada waktu manusia dilahirkan dari rahim Ibu, secara turun-temurun, yakni Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah menyuruh ruh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keEsan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia, dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem urat syaraf yang mengagumkan dan sebagainya.
Dengan ayat ini Allah bermaksud menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusi itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia dilahirkan dari rahim orang tua mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah pada kejadian mereka sendiri. Penolakan terhadap ajaran Tauhid yang dibawa Nabi itu sebenarnya perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia dan dengan suara hati nurani mereka. Karena itu tidaklah benar manusia pada hari Kiamat nanti mengajukan alasan bahwa mereka alpa, tak pernah diingatkan untuk mengesakan Allah. Fitrah mereka sendiri dan ajaran Nabi-nabi senantiasa mengingatkan mereka untuk mengesakan Allah dan menaati seruan Rasul serta menjauhkan diri dari syirik
4.    Surat Fushshilat : 30
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".( Fushshilat 30). Tafsir mufradat ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput “Janganlah takut dan janganlah bersedih“. Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat tersebut: “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Begitu pula mereka diberi kabar gembira berupa surga yang dijanjikan. Dia akan mendapat berbagai macam kebaikan dan terlepas dari berbagai macam kejelekan.
5.      Al-Baqarah Ayat : 255
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Dzat yang patut disembah, yang mempunyai kesemuanya kesempurnaan. Kata “ هو الاالله لا إله  “ menunjukkan bahwa tidak ada yang disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Dia Tuhan Langit dan Bumi. Kata “الْحَيُّ” mempunya arti bahwa Dzat Allah SWT selalu kekal abadi tidak pernah rusak atau fanak, hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT berbeda dengan makhluk-Nya yang bisa rusak atau fanak. Kata “الْقَيُّومُ” menunjukkan bahwa Allah SWT tidak butuh pada pembantu didalam mengurusi segala urusan-Nya. Kata “الْقَيُّومُ” ditafsirkan bahwa Allah SWT adalah Dzat yang mampu independen didalam mengurusi segala urusan makhluknya tampa bantuan dari pihak lain.
Kata “لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ” mempunya arti Dzat yang tidak pernah mengantuk atau tidur. Kata ini memperkuat kata sebelumnya berupa “الْحَيُّ الْقَيُّومُ”. Tentu tidak mungkin ada Dzat yang kekal abadi dan maha kuasa bisa mengantuk atau tidur, maka kata “لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ” adalah untuk memperkuat bahwa Dzat yang kekal abadi dan maha kuasa tidak pernah mengantuk atau tidur.
Kata “لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ” mempunya arti bahwa setiap sesuatu yang ada dilangit dan dibumi adalah masuk didalam kepemilikan Allah SWT. Kata ini juga menjukkan bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah, karna setiap sesuatu yang ada dibumi dan dilangit seperti Berhala, patung, matahari atau bulan adalah milik Allah, dan tidak pantas suatu yang dimiliki bisa mengalahkan pemiliknya Kata “مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ” menunjukkan keesaan Allah SWT bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menyamai keesaan-Nya hingga mampu memberi pertolongan kepada orang lain tampa izin dari Allah SWT.[10]
Kata “ أَيْدِيهِمْ – خَلْفَهُمْ ” ditafsirkan dengan sesuatu yang ada dibumi dan sesuatu yang ada diakhirat. Jadi kalimat itu mempunyai arti bahwa Allah SWT adalah Dzat mengetahui sesuatu yang ada didunia dan sesuatu yang ada diakhirat. Maka pengetahuan Allah SWT tidak terbatas oleh waktu dan tempat.
Kalimat “وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ” mengindikasikan bahwa selain Allah SWT tidak mempunyai ilmu kecuali apa-apa yang telah diajarkan oleh Allah padanya. Selain itu,Kalimat “وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ” juga  mempunyai pengertian bahwa selain Allah SWT tidak memiliki pengetahuan yang sebanding dengan pengetahuan Allah SWT.
Kata “كُرْسِيُّهُ”  didalam kalimat “وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ” para ulama’ tafsir berbeda pendapat, ada yang mengakan bahwa kata itu mempunyai arti ilmu, kekuasaan dan arsy.Jadi arti dari kalimat itu adalah bahwa kursi Allah (bisa dibaca ilmu Allah, kekuasaan Allah atau arsy Allah) meliputi langit dan bumi dan Allah tidak berat memelihara kedua.[11]
6.        Dari Anas bin Malik Radhiallahuanhu bahwasannya Rasulullah SAW membaca ayat ini (artinya) :
“Dia adalah Robb (Tuhan) yang patut kita bertaqwa kepadaNya dan Dia yang berhak member ampunan.” QS.Almuddatsir 74-56. Kemudian beliau bersabda, “Allah Azza Wajalla berfirman,  Aku adalah dzat yang berhak ditakuti (mendapat keakwaan hamba). Oleh karena itu,janganlah menjadikan bersama-Ku Tuhan yang lain. Barang siapa takut untuk menjadikan Tuhan lain bersama-Ku, maka Aku berhak mengampuninya (HR.Ibnu Majah).
7.      Dari Jabir, yaitu Ibnu ‘Abdillah Al-Anshari Radhiyallahu’anhu, dari Ibnu Unais Radhiyallahu’anhu, ia berkata :
“aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah akan mengumpulkan seluruh hamba, kemudian Dia memanggil mereka dengan suara yang dapat didengar orang yang jauh sebagaimana yang didengar oleh orang yang dekat : Aku-lah Maharaja, Akulah Ad-Dayyan. (HR.Bukhari).[12]

G.      Keimanan dan Ketaqwaan
1.    Keimanan
Membicarakan keimanan berarti membicarakan persoalan akidah dalam Islam. Secara etimologi akidah adalah ikatan/sangkutan. Akidah dalam pengertian terminologi adalah iman, keyakinan yang menjadi pegangan hidup bagi setiap pemeluk agama Islam. Oleh karena itu, akidah selalu dikaitkan dengan rukun iman yang menjadi ideologi ummat Islam.[13]
Islam adalah agama tauhid, tauhid erat kaitannya dengan kata wahid yang artinya mengesakan Tuhan. Tauhid adalah keyakinan akan keesaan Tuhan yang dalam agama Islam disebut Allah SWT. Pengertian iman secara luas ialah keyakinan penuh yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah, dan diwujudkan oleh amal perbuatan. Kompetensi iman seseorang yang sempurna antara lain menunjukan sifat-sifat sebagai berikut :
a.    Segala perilaku merasa disaksikan oleh Allah SWT sebagai pencipta
b.    Memelihara shalat dan amanat serta memenuhi janji
c.    Berusaha menghindari perbuatan maksiat dan mentaati segala perintah Allah SWT serta menjauhi segala larangan-Nya
d.   Apabila mendapat nikmat selalu bersyukur dan apabila mendapat musibah selalu bersabar
2.    Ketaqwaan
Dalam kitab Maraqil ‘Ubuudiyyah Imam Ghazali memberikan definisi bahwa taqwa adalah melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan Prof. Dr. Zainudin Ali MA mengatakan bahwa takwa adalah iman yang sudah berada didalam diri setiap muslim yang terpelihara sehingga tercapai tujuan hidupnya yaitu mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian itulah yang mewujudkan kebahagiaan didunia dan akhirat. [14]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali Imran : 102)
Taqwa menjadi sangat penting bagi seorang muslim. Oleh karena itu, Ilmu fiqih mewajibkan kepada Khatib untuk berwasiat taqwa dalam khutbahnya. Sehingga tidak syah khutbah jika tidak berwasiat taqwa. Selain itu, orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, jika mendapat kesulitan maka Allah akan memberikan kepadanya suatu jalan keluar, bahkan Allah akan memberikannya rizki yang tak terduga. Sebagaimana Firman Allah SWT :
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. At Talaq : 2-3)
Taqwa mempunyai ruang lingkup yang berkaitan antara hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan manusia dengan manusia dan makhluk lainnya. Hubungan tersebut mempunyyai substansi keimanan kepada Allah.[15]



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan                                                                    
Tuhan, manusia, dan alam merupakan pembahasan filsafat klasik yang tidak pernah ada habisnya. Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah karena agama merupakan sumber moral, petunjuk kebenaran, sumber informasi, dan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka. Selain itu, manusia dapat langsung mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk kepercayaan atau iman kepada Allah SWT.
B. Saran
Semoga pembaca dari makalah ini dapat mengimplementasikan setiap hal yang telah dipaparkan. Bukan sekedar untuk menambah pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi gambaran dalam menjalankan setiap kegiatan yang dilakukan.














DAFTAR PUSTAKA
Affandi, Khoer. 1993. Majmu’atul Aqiidah. Tasikmalaya: Miftahul Huda
Ahmad Musthofa Al-Maraghi. 1993.Terjemahan Tafsir Al-Maraghi. Semarang :Toha Putra
Al Bajuri, Ibrahim. 1359. Kifayatul Awwam.  : Al Haromain
Al Jawi, Nawawi. 1297. Tijan Ad Daraari. Surabaya : Darul Ilmi
Ali, Zainuddin. 2015. Pendidikan Agama Islam.Jakarta : Bumi Aksara
Aminudin, dkk. 2005. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Bogor : Ghalia Indonesia.
Eliade, Mircea. 1949. Manusia Multi Dimensional. Jakarta : Amazon.
Hamid, Syamsul Rijal. 2002. Buku Pintar Agama Islam.Bogor : Penebar Salam
Miftahul Khoiri dan Mohammad Asnawi. 2001. Al-Ahaadiitsu Al-Qudsiyyah Kumpulan Hadits Qudsi Beserta Penjelasannya. Yogyakarta : Muassan Ar-Rayan
Qadir. 2000. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Jakarta : Terj. Yayasan 
        Obor.
Samidi. 2016. Tuhan, Manusia, dan Alam. Jurnal Shahih. No.1(Vol.1) Hal : 14 – 15.
Shihab. 1999. Membumikan Al – Quran. Bandung : Mizan.





[1] Elisade, Mircea. 1949. Manusia Multi Dimensional. Jakarta: Amazon.
[2] Samidi. 2016. Tuhan, Manusia, dan Alam. Jurnal Shahih. No. 1(v0l.1) Hal : 14-15
[3] Hardjono, Mangun. 1982. Manusia Multi Dimesional: Sebuah renungan filsafat. Jakarta: Gramedia.
[4] Qadir. 2000. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Jakarta: Yayasan Obor.
[5] Shihab. 1999. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan

[6] Hanafi, Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
[7] Imaduddin, Muhammad. 1989. Islam Sistem Nilai Terpadu. Jakarta: Gema Insani Press.
[8] Amnuddin, dkk. 2005. Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi. Bogor: Ghalia Indonesia.
[9] Ali, Zainuddin. 2015. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
[10] Al Jawi, Nawawi. 1297. Tijan Ad Daraari. Surabaya: Darul Ilmi
[11] Maraghi, Ahmad Musthofa Al. 1993. Terjemahan Tafsir Al-Maraghi. Semarang: Toha Putra.
[12] Khoiri, Miftahul dan Mohammad Asnawi. 2001. Al-Ahaadiitsu Al-Qudsiyyah Kumpulan Hadits Qudsi Beserta Penjelasannya. Yogyakarta: Muassan Ar-Rayyan.
[13] Al Bajuri, Ibrahim. 1959. Kifayatul Awwam. Jakarta: Al Haromain.
[14] Affandi, Khoer. 1993. Majmu’atul Aqiidah. Tasikmalaya: Mifathul Huda.
[15] Hamid, Syamsul Rijal. 2002. Buku Pintar Agama Islam. Bogor: Penebar Salman.

Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Kefarmasian